Miss Tjitjih, Kelompok Sandiwara Berbahasa Sunda yang selalu Tampil tanpa Naskah!

Jauh sebelum film dan sinetron bergenre horor atau komedi populer di Indonesia, sebuah kelompok sandiwara asal Jawa Barat, Miss Tjitjih, sejatinya telah lebih dulu merajai aksi lakon dengan tema ini. Miss Tjitjih didirikan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tahun 1928.

 

Pada tahun 1926, gadis cantik bernama Nyi Tjitjih ditemukan oleh Aboebakar Bafaqih, seorang Arab-Indonesia kelahiran Bangil. Ia merupakan pemilik Sandiwara Keliling atau yang ketika itu lebih dikenal dengan sebutan Komedie Stamboel.

 

Nyi Tjitjih, yang biasa main sandiwara berbahasa Sunda akhirnya diajak bergabung oleh Bafaqih dalam perkumpulan sandiwara bentukannya, yakni Opera Valencia. Saat itu, Nyi Tjitjih baru berusia 18 tahun.

 

Meski Nyi Tjitjih hanya bisa berbahasa Sunda, namun Opera Valencia berkembang sangat pesat. Pada tahun 1928, kelompok ini pun sampai di Batavia dan Nyi Tjitjih kemudian dipersunting oleh Bafaqih sebagai istri kedua.

 

Setelah momen tersebut, Opera Valencia berubah nama menjadi Miss Tjitjih Toneel Gezelschap. Tak hanya itu, Bafaqih juga mengubah penggunaan bahasa Melayu jadi bahas Sunda dalam pertunjukkannya atas saran Nyi Tjitjih.

 

Penggunaan kata “Miss” sangat populer ketika itu untuk meraih perhatian publik. Kelompok sandiwara pada masa itu kerap mengandalkan seorang primadona yang disebut “Miss” untuk menjadi ‘merk dagang’.

 

Pertunjukan Miss Tjitjih mendapat sambutan yang luar biasa di masyarakat ketika itu. Kelompok sandiwara ini pun menjadi simbol kedaulatan budaya masyarakat Sunda di tengah makin berkembangnya hiburan yang berorientasi ‘Barat’

 

Sayang, di tengah kepopulerannya, Nyi Tjitjih meninggal dunia saat pentas di daerah Cikampek. Ia menghadap Sang Pencipta akibat penyakit TBC yang diderita.

 

Miss Tjitjih sedikit berbeda dengan pertunjukan sandiwara pada umumnya. Sejak awal berdiri, kelompok Miss Tjitjih selalu tampil impromptu alias tanpa naskah. Para pemain hanya mengandalkan arahan sutradara dalam menjalankan perannya.

 

Alasan di balik hal itu, para pemain Miss Tjitjih didominasi oleh orang tua dengan minat baca yang menurun serta daya ingat yang lemah. Penggunaan naskah dinilai hanya akan membatasi ruang gerak mereka.

 

Sebagai solusi, sang sutradara menyampaikan sinopsis yang telah dikarang dan memberikan pengarahan kepada para pemain. Meski demikian, para pemain mengaku tak kesulitan untuk menerjemahkannya ke dalam pertunjukan.

 

Aktris cantik Citra Kirana pernah merasakan sendiri pentas tanpa naskah bareng Miss Tjitjih. Ketika itu, ia menjadi salah satu pelakon dalam cerita Lutung Kasarung. Ia mengaku harus berimprovisasi untuk memerankan tokoh Purbasari.

 

Sebagai informasi, Miss Tjitjih akan tampil dalam acara Pekan Kebudayaan Nasional 2019 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada 7-13 Oktober 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Pertunjukan Miss Tjitjih akan berlangsung di Panggung Nusantara pada 7 Oktober 2019, pukul 10.30 – 11.30 WIB.

 

Ayo, Sahabat Budaya, datang dan saksikan keseruannya hanya di Pekan Kebudayaan Nasional 2019!

3 Comments

Post A Comment